UPACARA

Anak MI sebagai petugas Upacara Rutin

CAMPING

Camping melatih kemandirian anak

PELATIHAN INTERNET DI TELKOM GRESIK

Pelatihan melatih keterampilan anak

REFRESING KE KOLAM RENANG

REFRESING : memberikan reward kepada anak didik

DARUL ARQOM (MATERI KULTUM)

DARUL ARQOM : Latihan Dasar Kepemimpinan

PELATIHAN GURU

PELATIHAN GURU : Meningkatkan profesionalisme guru, sebagai wujud komitmen kami

Tampilkan postingan dengan label Berita Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2012

Mengenal Bakat & Potensi Anak

detail berita
Mengenal bakat & potensi anak. (Foto: Getty Images)
BEBERAPA dekade yang lalu, kecerdasan anak selalu dikaitkan dengan kecerdasan akademis. Anak dianggap cerdas apabila mereka tidak pernah absent masuk dalam peringkat tiga besar di kelasnya.

Tak heran jika orangtua berlomba-lomba memacu anaknya agar memiliki kemampuan akademis yang lebih tinggi dibandingkan teman-temannya. Namun, sekarang tidak seperti itu lagi. Kecerdasan seseorang tak lagi hanya diperhitungkan dari segi akademis.

Mereka yang memiliki kelebihan dalam bidang non-akademis pun mulai mendapat tempat. Apalagi sudah banyak contoh orang-orang yang berhasil karena kemampuannya di bidang non-akademis. Misalnya, dari bidang olahraga sudah banyak atlet muda yang  mengharumkan nama bangsa Indonesia. Kondisi ini tentu saja membuat para orangtua tidak lagi memandang kecerdasan anaknya dari sisi akademis saja.

Orangtua yang dapat melihat kemampuan anaknya di bidang lain mulai sadar dan tidak lagi memaksakan diri kepada buah hatinya untuk menjadi anak yang paling pintar di dalam kelas. Sama halnya dengan pengembangan kecerdasan akademis, kecerdasan non-akademis sebaiknya mulai dikembangkan sedini mungkin pada anak-anak.

Untuk itu, orangtua wajib mengenali apa sebenarnya bakat dan potensi yang ada di dalam diri buah hatinya. Dengan mengetahui bakat dan potensi anaknya lebih awal, orangtua akan lebih mudah mengarahkannya sehingga anak pun bisa menggali bakat dan potensinya sejak dini. Oleh karena itu, mengenali bakat anak secara dini akan menggali lebih dalam lagi potensi yang dimiliki oleh seorang anak.

Gizi yang baik, lingkungan yang penuh rangsangan dan orang tua yang demokratis membuka kesempatan bagi lahirnya anak-anak berbakat. Tapi apakah anak-anak kita memang berbakat? Apa cirri-cirinya? Bagaimana mengenalinya? Di bawah ini beberapa tip untuk mengenali bakat anak Anda:

1. Apakah Anda sendiri atau pasangan Anda berbakat? Apakah ada satu atau lebih kakak/adik/ipar Anda yang berbicara lebih dini dari usianya saat di bawah tiga tahun? Bisa menunjukkan jalan pulang ke rumah dengan mudah? Memiliki ingatan setajam gambar? Kalau ya, maka tendensi itu akan menurun ke anak-anak Anda juga.

2. Kelewat sensitive mudah menangis, mudah terharu, gampang tersinggung, mudah terbangun dari tidur akibat suara yang biasa saja adalah cirri-ciri awal anak berbakat. Bahkan anak yang terkena iritasi akibat label baju di tengkuknya atau sambungan tebal di kaos kakinya, menunjukkan anak itu berbakat.

3. Memiliki skor test IQ di atas 125 adalah salah satu bakat yang ada dalam diri anak Anda. Hanya saja membutuhkan tes terpisah untuk menemukan bakat sesungguhnya. Apalagi tes IQ tidak bisa dilakukan untuk anak dengan umur di bawah 9 tahun karena tidak akan akurat.

4. Dalam kehidupan sehari-hari, anak itu memiliki ciri-ciri memberi perhatian, amat jeli, teliti dalam taraf yang kelewatan, menunjukkan rasa ingin tahu yang besar, ingatan tajam, focus untuk waktu lama, mudah belajar dengan sedikit pengulangan saja serta bisa memberikan alas an kuat untuk segala tindakan dan ucapannya.

5. Dalam penguasaan bahasa, anak yang berbakat cenderung lebih maju kosakatanya daripada anak sebayanya, memulai aktivitas membaca pada usia dini, selalu bertanya,  “Bagaimana kalau….”atau “Kenapa bukan…..”. Ia juga memerlihatkan kemampuan untuk membaca cepat dan menjangkau topik yang luas.

6. Secara emosi dan social, anak tertarik pada topik-topik yang tidak lazim, seperti apa itu kematian, kemana orang sesudah mati, mengapa orang mati membusuk dan lain sebagainya. Secara kepekaan, anak seperti ini biasanya sangat sensitif dan secara fisik mudah diprovokasi untuk melakukan kegiatan luar ruangan.

7. Anak seperti ini juga memiliki selera humor yang baik, bahkan sampai ke level bisa mentertawakan diri sendiri, sama seperti orang dewasa. Ia juga biasanya perfeksionis, maunya semua tersusun, terpola dan selesai dengan sempurna. Anak semacam ini selalu penuh energi, tidak mudah lelah dan gampang menyesuaikan diri serta dekat dengan orang-orang dewasa.

8. Dia bisa berpikir abstrak, misalnya relasi kekeluargaannya yang rumit seperti sepupu atau ipar atau orangtua dari nenek. Pendeknya yang tidak berkaitan langsung dengan dirinya, itu sudah abstrak. Ia juga bisa memahami kerangka waktu di masa lampau dan masa depan, misalnya “Waktu ayah masih kecil…”.

9. Dia mampu menggambar, atau membangun sesuatu dengan kompleks dan pola yang tidak biasa, misalnya dengan medium balok, crayon, cat air, gambar, pasir, tanah liat dan sebagainya.

10. Ada perbedaan yang jelas antara anak berbakat dan anak cerdas. Anak berbakat cenderung pembosan, gemar main, tidak suka belajar karena sudah tahu jawabannya dan bahkan kelewat kritis sehingga mempertanyakan jawaban yang sudah ada. Anak cerdas suka belajar, mendengarkan dengan baik, bisa menjawab pertanyaan dengan baik, memberi perhatian dan menyukai berada di kisaran usia yang sama.

Anak berbakat cenderung memberontak, agak malas, maunya menang sendiri, suka mempertanyakan kemapanan, tidak suka belajar, unggul dalam test multiple choice karena ia cenderung menebak, tapi ia juga kritis terhadap dirinya sendiri.

Perlu diingat bahwa anak berbakat atau anak cerdas tak musti berhubungan erat dengan kesuksesan dalam hidup. Kalau salah didik, ya ia bisa menjadi kriminal yang cerdas dan berbakat.

Di sekolah-sekolah, anak berbakat cenderung diabaikan atau tidak teridentifikasi sebab biasanya mereka pembuat rusuh, lari ke sana ke mari, cenderung malas dan dengan standard sekolah umumnya digolongkan sebagai anak yang tidak mampu sekolah.

Tak jarang, mereka dikata-katai guru sebagai anak nakal, calon penjahat, enggak bakal lulus, tidak naik kelas, dan lain sebagainya.

Hal-hal itu secara sosial justru makin menjauhkan mereka dari sekolah. Selain itu, anak-anak dari kelas sosial yang lebih miskin dan anak-anak dari kelompok minoritas secara ras, suku dan agama biasanya juga tidak lolos dalam penyaringan anak berbakat yang dilakukan di sekolah-sekolah. Itu karena sekolah secara umum mencari anak yang duduk manis, duduk di bangku paling depan dan tidak membantah gurunya.

by: Alakhni81

4 Cara Meningkatkan Kreativitas Anak

4 Cara Meningkatkan Kreativitas Anak

anak kreatifMempunyai seorang anak kreatif merupakan dambaan setiap orang tua. Anak-anak yang kreatif memiliki cara berpikir yang unik, karena itu mereka dapat menjadi pemecah masalah yang baik. Namun, kreativitas bukan berarti seorang anak berhasil mencapai suatu solusi saja, tapi sekaligus proses dan cara berpikir yang dimilikinya. Lalu pertanyaannya apakah kreativitas ini merupakan suatu bakat alami atau bisa di bentuk melalui cara mendidik anak?
  Kabar baik bagi orang tua bahwa ternyata kreativitas anak dapat dibentuk melalui pembinaan oleh orang tua sejak dini. Beberapa cara yang sederhana berikut ini dapat menjadi masukan bagi Anda yang ingin meningkatkan kreativitas anak.

Percaya pada Kemampuan Anak

Tunjukan kepada anak anda bahwa Anda percaya pada kemampuan mereka. Hal ini dapat menjadi pondasi yang kuat dalam pembentukan kreativitas anak. Sebagai gambaran, misalkan anak anda mewarnai rumput dengan warna biru, daripada menunjukan ketidaksetujuan lebih baik Anda bertanya dan memberi komentar positif. Hal ini akan merangsang anak untuk berpikir kratif.

Beri Dukungan pada Anak

Para orang tua sebaiknya memberikan dukungan akan keinginan anak untuk berkreasi selama hal tersebut baik. Berilah anak Anda kebebasan untuk menentukan apa yang ingin dilakukannya dan berilah dukungan untuk anak mencapai apa yang ingin diraihnya tampa memaksanya. Semisalkan, anak Anda hobi melukis dan ingin mengikuti lomba lukis disekolahnya, dukunglah meraka, walaupun dia tidak bisa melukis dengan baik. Seandainya anak Anda tidak menjadi juara, tapi yakinlah bahwa anak akan terus berusaha untuk lebih kreati karena tahu kala Anda sebagai orang tua mendukungnya.  

Sediakan Fasilitas yang Dapat Mengasah Kreativitas

Fasilitas yang dimaksud disini antara lain adalah benda-benda yang dapat mengembangkan jiwa seni anak Anda seperti, kertas gambar, pensil warna, krayon, gunting, lem dan kertas lipat. Akan lebih baik lagi jika disediakan ruangan khusus yang menyediakan fasilitas tersebut agar anak bebas mewujudkan ide-idenya tampa takut dimarahi bila dia mengotori dirinya sendiri. Dan anda juga sebagai orang tua tidak perlu khawatir seluruh bagian rumah berantakan.

Beri Anak Pengalaman Baru

Berikanlah waktu khusus untuk anak Anda dengan mengajaknya ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya seperti museum, kebun binatang dan taman rekreasi. Tidak harus menunggu liburan sekolah anak atau liburan akhir tahun untuk berekreasi, akhir pekan juga merupakan moment yang baik untuk anak mendapatkan pengalaman yang baru. Hal-hal baru ini dapat meningkatkan atau merangsang imajinasi anak sehingga krativitas anak semakin meningkat.
Bagaimana menurut Anda, Mudah bukan mendidik anak sejak dini untuk menjadi lebih kreatif dan Andapun akan senang.
                                                                                                                                  by: Miftahul Huda

Kirim Pertanyaan Anda